Manajemen
dan Organisasi. Dua kata yang saling berkaitan, dan tanpa satu dari keduanya
maka tidak akan ada kata ‘dan’ yang menyambungkan makna sekaligus fungsi
keduanya. Kedua hal tersebut adalah elemen yang saing melengkapi, organisasi tanpa
manajemen hanyalah sekelompok orang dengan visi misi yang sama namun tanpa arahan dan tatanan. Sedangkan
manajemen tanpa organisasi hanyalah teori tanpa ada yang melaksanakan hal
tersebut. Dalam hal kuliah Manajemen dan Organisasi merupakan suatu mata kuliah
wajib bagi mahasiswa Sistem Informasi semester 1. Namun bagaimana dengan hal
ini di dunia nyata?
Banyak orang berkata, pengusaha
suskses adalah yang membangun usahanya dari nol dengan keringat dari usahanya
sendiri, rugi dan ditipu orang berkali-kali, sukses besar lalu jatuh lagi,
bangkit membangun usahanya yang terpuruk, begitu seterusnya. Pengalamanlah yang
jadi gurunya, berbagai orang dengan bermacam-macam karakterlah yang membangun
pribadi wirausahanya. Tanpa bekal ilmu dari bertumpuk buku tebal dengan bahasa
asing yang bahkan kami sebagai mahasiswa seringkali kurang paham, semua orang
bisa menjadi seorang wirausahawan sukses. Benarkah demikian?
Apa yang membangun kekuatan
seseorang adalah niat dan usahanya. Seberapapun sulitnya mewujudkan hal
tersebut, akan mudah jalannya apabila usahanya tanpa henti mengalir untuk
niatnya. Salah satu usaha yang dilakukan banyak orang untuk mencapai mimpinya
adalah menempuh pendidikan. Jenjang demi jenjang dilewati, dengan berbagai
posisi dari siswa menjadi mahasiswa, kita semua sudah mengalami rasanya berada
dalam organisasi. Entah itu hanya duduk sebagai siswa biasa, ketua panitia
pagelaran seni, ketua OSIS, semua itu adalah bagian dari organisasi. Bagaimana
dengan manajemennya? Manajemen sendii sudah terlihat dari tatanan tugas dan
posisi setiap orang. Siswa biasa yang tidak terlibat OSIS atau kepanitiaan pun
mempunyai tanggung jawab dan tugasnya sendiri, yaitu memastikan bahwa apa yang
berjalan di organisasinya tetap sesuai aturan. Bukankan bila para berkuasa tak
menyadari salahnya, rakyat yang angkat suara untuk memberitahu? Untuk
mengetahui salah dan benar dari suatu hal, bukankah kita semua memerlukan ilmu?
Ilmu tidak harus berasal dari buku, ilmu bisa berasal dari petuah orang yang
lebih tua, kejadian yang ada di sekitar kita, bahkan celotehan anak kecil bisa
menjadi ilmu yang tidak ternilai jika kita bisa mengambil intisarinya.
Lalu bagaimana dengan kata-kata
bahwa “pengalaman adalah guru yang paling baik”? Pengalaman sendiri merupakan
ilmu yang tidak dibukukan, ilmu yang tersebar di setiap hel nafas dan detak
jantung orang yang memilikinya. Pengalaman akan membuahkan dasar ilmu yang
dapat dibukukan menjadi sebuah teori. Bahasa asing dan teks panjang membosankan
yang melingkupinya mungkin akan mengaburkan hakikat sebenarnya sebagai sebuah
pengalaman. Bukan cerita seru penuh dengan jatuh bangun seorang pengusaha
sukses, tetapi deretan ketentuan dan peraturan berlabel nama-nama tokoh yang
tidak kita kenal sebelumnya. Namun apabila kita dapat memahami, sesungguhnya
ilmu-ilmu dalam buku tebal nan membosankan itu adalah pengalaman dari
orang-orang terdahulu yang sudah lebih mengerti dan memahami manajemen dan
organisasi.
Kesuksesan para pengusaha yang sudah
menuai hasil usahanya sekarang adalah simbol puncak usaha mereka. Bukan berarti
mereka akan duduk santai selamanya setelah semua yang mereka kerahkan untuk
usaha mereka. Suatu saat mereka akan mengalami siklus itu lagi, saat harus
jatuh dan bangkit untuk mengembalikan semuanya ke tempatnya yang seharusnya.
Manusia akan terus belajar sepanjang hidupnya, karena jika satu tantangan sudah
terlewati, Tuhan akan memberikan tantangan yang lebih besar untuk diselesaikan.
Hidup adalah sebuah tantangan yang tidak akan berakhir bagi para pengusaha,
karena pengusaha adalah orang yang akan terus berusaha dalam mengusahakan
sesuatu yang diinginkannya.
Rika Nurlaili Dewi
5214100112
Tidak ada komentar:
Posting Komentar