Bayangkan terlahir dengan kondisi seperti ini:
·
Setiap melihat angka tertentu, kamu melihat warna yang berbeda.
Misalnya, angka 2 disertai warna biru, 4 merah, 8 ungu, dll.
·
Setiap mendengar nada tertentu, kamu melihat warna yang
berbeda-beda.
·
Setiap mendengar/melihat hari (Senin, Selasa, Rabu, dll) melihat
warna yang berbeda-beda.
·
Setiap menyentuh tekstur berbeda, kamu merasakan emosi yang
berbeda. Kain jeans: “sedih”, sutera “damai”, lilin “malu”, dll.
Inilah dunia Synesthesia, suatu kondisi di
mana persepsi tercampur-campur, angka dan warna, nada dan warna, bahkan emosi
dan tekstur benda. Dan ini bukan “penyakit”, tetapi “kondisi” otak yang
kebetulan dimiliki sebagian kecil manusia di dunia.
Otak adalah salah satu organ yang paling
sedikit dimengerti manusia. Sulitnya karena, otak tidak bisa diteliti dalam
keadaan mati. Dan umumnya manusia hidup (dan sehat) agak keberatan kalo otaknya
dibuka-buka. Karenanya dalam neuroscience, seringkali pengertian tentang cara
kerja otak didapat dari kasus medis, misalnya kasus stroke, tumor otak,
kecelakaan dengan cedera kepala, dll. Ketika ada bagian otak tertentu yang rusak,
barulah ilmuwan mempelajari apa efeknya terhadap persepsi dan perilaku. Hanya
belakangan saja ditemukan teknologi MRI, brain scan, dll. tetapi ini semua
masih harus dikombinasikan dengan kasus-kasus medis. VS Ramachandran adalah
salah satu neuroscientist yang bekerja dengan banyak pasien, dan kemudian
menulis buku tentang penemuannya tentang otak dari pengalaman beliau.
Sebelum gw share tentang synesthesia, ada 2
kesalah-pahaman umum tentang indera dan persepsi:
1. Kita melihat dengan mata, mendengar dengan
telinga, dll.
2. Penglihatan, pendengaran, dll adalah fungsi
“tunggal”
Kekeliruan pertama, kita tidak pernah melihat,
mendengar dengan indera kita, tetapi dengan OTAK. Mata, telinga, lidah, dll
hanya menerima input (visual, audio, rasa, dll), di mana input ini dikonversi
lagi menjadi sinyal-sinyal listrik, untuk kemudian DIREKONSTRUKSI di dalam
otak. Semua persepsi kita bukanlah persepsi “langsung”, tapi sudah melalui
proses panjang yang berjalan sangat cepat, sampai kita tidak menyadarinya.
Dengan kata lain, apa yang kita “lihat”,
“dengar”, bisa saja berbeda dengan apa yang masuk ke mata dan telinga kita!
Hebat yah?
Buktinya adalah kasus-kasus gangguan
penglihatan bahkan kebutaan ketika bola mata kondisinya baik, yang disebabkan
stroke, atau tumor otak.
Kekeliruan kedua, penglihatan bukanlah sebuah
fungsi “tunggal”, layaknya sebuah kamera digital yang langsung menangkap semua
gambar dalam satu layar. Neuroscience menunjukkan bahwa penglihatan terbagi
menjadi banyak fungsi2 yang ditangani bagian otak berbeda. Ada bagian otak yang mengurusi warna, ada yang
mengurusi gerakan, ada yang mengurusi pencahayaan, bahkan ada yang mengurusi
bagian “mengenali obyek”. Ada banyak kasus pasien yang sesudah cedera otak
kehilangan penglihatan untuk warna, atau tidak mampu melihat “gerakan”, atau
bahkan tidak bisa mengenali benda, walaupun bola matanya normal. Dan ini semua
karena salah-satu fungsi penglihatan terganggu, di dalam otak.
Synesthesia, adalah kondisi dimana persepsi
seseorang “tercampur”. Melihat angka disertai warna, mendengar musik disertai
warna, atau tekstur benda tertentu menciptakan “rasa di lidah” yang berbeda.
Dan semua ini bukan imajinasi, tetapi benar-benar dirasakan.
Menurut VS Ramachandran, kondisi ini relatif
baru-baru ini diakui dunia medis. Dahulu seringkali kondisi ini dianggap
gangguan jiwa, schizophrenia, atau sekedar mencari perhatian. Melalui berbagi
metode tes yang jenius, Ramachandran membuktikan bahwa fenomena ini riil, tidak
dibuat-buat.
Alat Uji Synesthesia
(gambar: seorang pemiliki kondisi Synesthesia
yang mengaku melihat angka 2 sebagai “merah” akan bisa melihat bentuk segitiga
di gambar kiri bawah dalam tempo singkat)
Belum ada penjelasan yang 100% pasti tentang
kondisi ini. Salah satu hipotesa terkuat adalah adanya “cross-wiring” dua area
otak yang bertanggung-jawab untuk persepsi yang berbeda. Area otak untuk
“angka” dan area otak untuk “warna” ternyata memang posisinya bersebelahan,
sehingga Ramachandran menduga adanya “sambungan” di antaranya untuk sebagian
orang. Maka tidak heran ada orang yang melihat angka DAN warna secara
bersamaan. Sama halnya dengan bentuk sinestesia yang lainnya (bagian otak untuk
“pendengaran” juga dekat posisinya dengan bagian “warna”). Sekali lagi, ini
belum menjadi penjelasan definitif dan satu-satunya.
Tentang KENAPA ada kondisi ini, Ramachandran
belum bisa menjawab pasti, selain indikasi bahwa Synesthesia adalah kondisi
genetis, bisa diturunkan. Tetapi yang menarik gw adalah dugaan adanya hubungan
dekat antara synesthesia dan kreativitas!
Banyak penulis buku, pujangga, penulis puisi
di dunia yang ternyata diduga memiliki Synesthesia. Dan tidakkah menarik jika
dipikirkan, bahwa dunia kreatif penuh dengan metafora yang unik?
“Kepribadiannya seperti matahari”
“Pertemuan itu terasa manis”
“Hujan hari itu bagaikan tangisan yang pahit”
Kemampuan bermetafora di atas umum dijumpai di
antara penulis/seniman berbakat. Mungkinkah synesthesia ada hubungannya dengan
kreativitas, dengan memungkinkan otak manusia memiliki kemampuan berpikir
metafora? Dan synesthesia adalah kondisi ekstrim dari hubungan antar bagian
otak di balik kreativitas? Belum ada jawaban yang pasti untuk ini.
Yang menarik, banyak Synesthes (istilah untuk
pemilik kondisi ini) yang menolak untuk “disembuhkan”. Ada beberapa kasus di mana obat
antidepressant ternyata menghilangkan synesthesia secara temporary, dan hal ini
dianggap suatu “kehilangan” oleh pengguna obat tersebut. Menurut mereka, dunia
menjadi “hambar” ketika kondisi mereka “sembuh”. Bagi mereka, kondisi ini tidak
mengganggu sama sekali, karena sudah terbiasa bertahun-tahun, dan kita yang
tidak memiliki kondisi ini tidak bisa membayangkan sama sekali seperti apa
rasanya.
dari: berbagai sumber unyu yang unyu sekali infonya :3
curcol sejenak: jujur deh, ini postingan sudah mengendap satu setengah tahun di laptop. dan baru nemu pas bongkar folder. dodol ah ya -_-'


yoopo lek blogmu gantien link dadi blogunyurika ae -_- ket mang unyaunyu padahal fakta yang unyu akuuu :*
BalasHapus